BENGKULU – Ekonomi Bengkulu sedang berada di persimpangan jalan yang kontras. Di satu sisi, geliat domestik tumbuh manis melampaui rata-rata Sumatra. Namun di sisi lain, “mendung” geopolitik dari Timur Tengah mengancam akan mengirimkan badai inflasi jika konflik Iran-Israel meletus menjadi perang terbuka.
Peringatan itu muncul dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu 2026 di Hotel Santika, Kamis (9/4). Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani, memaparkan skenario yang membikin dahi berkerut.

“Jika skenario terburuk terjadi, harga minyak dunia bisa melonjak ke angka USD 132 per barel,” tegas Dendi. Lonjakan ini tentu bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata bagi biaya produksi dan daya beli warga hingga ke pelosok Bengkulu.
Rapor Hijau di Tengah Tekanan
Meski dibayangi isu global, rapor ekonomi Bengkulu sepanjang 2025 sebenarnya cukup mentereng. Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, RA Denni, menyebut pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 4,82 persen (yoy). Angka ini sukses mengasapi rata-rata pertumbuhan Sumatra yang berada di angka 4,81 persen.
“Stabilitas kita tercermin dari inflasi yang sangat terkendali di level 2,7 persen,” ujar Denni. Capaian ini menjadi modal kuat saat memasuki triwulan I-2026, yang diproyeksikan Bank Indonesia bakal tumbuh di kisaran 4,47 hingga 5,03 persen.
Namun, ada catatan merah yang patut diwaspadai. Deputi Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, mengingatkan adanya penurunan transfer ke daerah (TKD) sebesar 20,38 persen. Belum lagi sektor pertambangan yang masih jalan di tempat.
Digitalisasi dan Napas APBN
Di level akar rumput, wajah ekonomi Bengkulu makin modern. Dompet digital bukan lagi barang mewah. Hingga akhir tahun lalu, tercatat 267.952 warga Bengkulu sudah mahir “sat-set” menggunakan QRIS untuk bertransaksi di 229.532 merchant.
Dari sisi dapur keuangan negara, Kepala Kanwil DJPb Bengkulu, Mohamad Irfan Surya Wardana, melaporkan napas fiskal masih cukup panjang. Hingga Februari 2026, pendapatan negara di Bengkulu tumbuh 24,18 persen mencapai Rp 409,5 miliar.
EKONOMI BENGKULU DALAM ANGKA
-
-
Tumbuh Positif: 4,82% (Melampaui rata-rata Sumatra).
-
Benteng Inflasi: 2,85% (Maret 2026), lebih rendah dari nasional (3,48%).
-
Titik Panas: Kabupaten Mukomuko (Inflasi tertinggi: 3,83%).
-
Gaya Hidup Baru: 267.952 pengguna QRIS.
-
Sektor Penyelamat: Telekomunikasi, Kesehatan, Manufaktur Hilir, dan Kopi.
-
Sinergi Jadi Kunci
Menghadapi tahun yang penuh ketidakpastian, Pemprov Bengkulu tidak mau berjudi. Strategi “keroyokan” antara kebijakan moneter dan fiskal diperkuat. Fokusnya jelas: menjaga perut rakyat lewat ketahanan pangan, cetak sawah, dan memastikan distribusi barang antarwilayah tidak tersumbat.
“Kita harus menjaga stabilitas produksi di tengah tekanan global yang makin dinamis,” tutup Denni.

