JAKARTA, INDOWEEK.ID – Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menegaskan bahwa komitmen investasi Jepang sebesar US$ 22,6 miliar atau setara Rp384 triliun bukan sekadar formalitas diplomasi. Meski demikian, ia memberikan catatan kritis bagi pemerintah: realisasi di lapangan tetap menjadi ujian sesungguhnya.
Penegasan ini merespons penandatanganan 10 Memorandum of Understanding (MoU) strategis saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo, Jepang, baru-baru ini.
Bukan Sekadar Basa-basi Diplomasi
Rachmat Gobel, yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ), menepis keraguan publik yang menilai MoU tersebut hanya berisi proyek lama atau sekadar seremonial.
“Ini bukan basa-basi dan formalitas diplomasi. Tantangannya sekarang ada di tingkat pelaksana lapangan,” tegas Gobel dalam keterangan resminya, Minggu (5/4/2026).
Menurut Gobel, sambutan hangat para pengusaha Jepang terhadap janji Presiden Prabowo mengenai kepastian hukum menjadi sinyal positif. Presiden secara eksplisit meminta investor melaporkan langsung jika menemui hambatan birokrasi.
Peta Jalan Investasi: Dari Blok Masela hingga Chip AI
Sepuluh kesepakatan yang diteken mencakup sektor-sektor krusial yang diharapkan menjadi motor baru ekonomi nasional:
| Sektor | Mitra Kerja Sama | Fokus Proyek |
| Energi & Gas | Inpex, Pertamina, PKT | Pengembangan Blok Masela & Produksi Methanol emisi CO2. |
| Teknologi Tinggi | Hayashi Kinzoku & PT Eblo | Ekosistem Semikonduktor (Desain & Manufaktur Chip AI). |
| Keuangan | SMBC, Danantara, Mandiri, Pegadaian | Aviation Leasing Fund & Inklusi Keuangan berbasis Emas. |
| Energi Terbarukan | Inpex & Supreme Energy | Pembangkit Listrik Panas Bumi (Geothermal) Rajabasa. |
| Lifestyle & Perdagangan | 2Way World, JETRO, Kadin | Industri Kecantikan & Penguatan Hubungan Dagang. |
Menagih Komitmen Birokrasi
Politisi NasDem ini menyoroti skeptisisme yang muncul terkait rendahnya realisasi proyek baru (di bawah 10%). Ia mendesak jajaran menteri hingga pemerintah daerah untuk segera melakukan sinkronisasi regulasi agar investasi ini tidak jalan di tempat.
“Menteri dan jajaran pemerintah pusat hingga daerah harus memberikan kemudahan dan menyesuaikan regulasi. Apalagi situasi global sedang sangat dinamis,” tambahnya.
Optimisme Gobel diperkuat dengan keterlibatan raksasa industri Jepang seperti Mitsubishi, Mitsui, Toyota, Panasonic, hingga Sumitomo. Menurutnya, kehadiran para CEO papan atas tersebut menunjukkan bahwa Jepang siap bergerak konkret, asalkan Indonesia mampu memberikan karpet merah dalam hal kepastian usaha. ***

