Pemerintah Jamin Pasokan Energi Aman dan Kurangi Ketergantungan Impor

Date:

JAKARTA, INDOWEEK.ID –Pemerintah berkomitmen menjamin pasokan energi nasional tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat. Langkah strategis terus dilakukan untuk memperkuat kedaulatan energi, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas kilang domestik guna menekan ketergantungan pada impor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan pilar penting bagi keberlanjutan ekonomi nasional.

“Ketahanan energi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal kedaulatan dan keberlanjutan ekonomi nasional. Pemerintah akan terus memastikan energi itu tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Bahlil dalam sebuah siniar di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Strategi Substitusi dan Hilirisasi

Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Rencana Induk Pengembangan Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur. (ANTARA/HO-Pertamina)
Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) atau Rencana Induk Pengembangan Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur. (ANTARA/HO-Pertamina)

Untuk memperkuat struktur energi domestik, pemerintah mendorong pengembangan substitusi LPG melalui hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Meski membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak instan, langkah ini diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.

Bahlil mengungkapkan, Indonesia telah mencatat keberhasilan dengan menghentikan impor solar. Hal ini tercapai berkat:

  • Peningkatan kapasitas kilang domestik, termasuk Kilang Balikpapan.
  • Implementasi program biodiesel secara konsisten.

Namun, ia mengakui tantangan besar masih ada pada komoditas bensin dan LPG yang hingga kini masih bergantung pada pasar global.

Tantangan Produksi dan Geopolitik

Saat ini, kebutuhan minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi domestik baru menyentuh angka 605 ribu bph. Defisit sekitar satu juta barel per hari tersebut terpaksa dipenuhi melalui impor.

Ketergantungan ini kian berisiko di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Sekitar 20–25 persen jalur impor energi Indonesia melewati Selat Hormuz, jalur vital yang kini terdampak ketegangan internasional.

Target Mandatori Biodiesel B50

Sejalan dengan upaya tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah menetapkan target ambisius terkait kedaulatan energi. Dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo (30/3/2026), Presiden menargetkan implementasi campuran kelapa sawit sebesar 50 persen (B50) pada bahan bakar solar mulai tahun 2025.

Langkah ini diharapkan dapat memposisikan Indonesia pada titik yang lebih aman dari fluktuasi harga dan ketidakpastian pasokan energi dunia.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share post:

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Sepuluh Pekerja Migran Asal Bengkulu Raih Peluang Kerja di Sektor Perhotelan Jepang

BENGKULU, INDOWEEK.ID– Penyerapan tenaga kerja terampil asal Indonesia di...

Polemik Royalti Rp 25 Juta, Ikke Nurjanah Tagih Transparansi LMKN

DEPOK, INDOWEEK.ID– Ketua Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI), Ikke...

Momen Seru Fuji Ajak Gala Sky ke Kebun Binatang, Asyik Beri Makan Kapibara hingga Kuda Nil

JAKARTA,INDOWEEK.ID – Selebritas internet Fujianti Utami Putri atau yang...

Harga TBS Sawit Bengkulu Rp 3.463 Per Kg, Wagub Mian: Masih Tertinggal dari Riau

BENGKULU, INDOWEEK.ID – Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, menyoroti harga...