INDOWEEK– Di tengah kepungan air bah setinggi empat meter yang nyaris menenggelamkan atap rumahnya, harapan hidup Roji dan empat anggota keluarganya sempat pupus. Namun, kehadiran sosok berseragam loreng di tengah derasnya arus menjadi titik balik nasib warga Desa Bundar, Kecamatan Karangbaru, Aceh Tamiang tersebut.
Sosok itu adalah Sersan Satu (Sertu) Giman Saputra, personel Babinsa dari Kodim 0117/Aceh Tamiang.
Saat ditemui di kediamannya yang masih menyisakan jejak lumpur, Jumat (19/12/2025), Roji tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kembali detik-detik mencekam yang terjadi pada akhir November lalu.
“Pak Giman menyelamatkan kami pakai ban. Tim SAR kami panggil tidak datang, mungkin karena saking banyaknya yang butuh tolong. Kami tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa,” kenang Roji dengan suara bergetar.
Detik-Detik Penyelamatan Lewat Jendela

Banjir bandang yang menerjang pada 26–27 November itu memang tak main-main. Air naik dengan cepat, mengurung keluarga Roji di dalam rumah. Dalam kondisi genting itulah, Sertu Giman muncul dengan peralatan seadanya—sebuah ban karet dan tali.
“Untung Pak Giman datang menyelamatkan kami. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana nasib kami,” ujarnya.
Roji menyebut tindakan Sertu Giman sebagai jawaban atas doa-doanya di tengah keputusaasaan. Ia bahkan mengibaratkan sang prajurit sebagai perpanjangan tangan Tuhan.
“Alhamdulilah, itulah malaikat Pak, (Tuhan) kirim Pak Giman. Puji Tuhan ya. Terima kasih banyak, enggak sanggup kami balas kebaikan Pak Giman,” ucap Roji penuh haru.
Ia lantas menunjuk sebuah jendela rumah yang menjadi saksi bisu proses evakuasi. Karena pintu utama sudah tak mungkin diakses, jendela itulah satu-satunya jalan keluar.
“Dari sini kami keluar,” katanya menunjuk jendela tersebut. “Kami ditarik pakai ban dan tali. Pak Giman bolak-balik menolong kami satu per satu.”
Pengakuan Rendah Hati Sang Prajurit

Terpisah, Sertu Giman menanggapi pujian tersebut dengan rendah hati. Bagi prajurit TNI ini, keselamatan nyawa warga adalah prioritas tertinggi di atas segalanya. Ia mengaku lega bisa mengevakuasi tetangganya itu tepat waktu, meski sadar bahaya juga mengintai dirinya saat menerjang arus.
“Perasaan saya satu, senang sekali melihat mereka selamat. Walaupun kondisi rumah rusak parah, yang terpenting nyawa tertolong,” ujar Giman singkat.
Kisah Roji dan Sertu Giman menjadi potret nyata solidaritas dan keberanian di tengah bencana yang melanda Aceh Tamiang, mengingatkan bahwa kemanusiaan seringkali muncul paling terang di saat-saat paling gelap. ***

