INDOWEEK, REJANG LEBONG — Di tengah tantangan pengelolaan limbah pertanian, sebuah terobosan cerdas lahir dari tangan warga Desa Suku Menanti IV, Kabupaten Rejang Lebong.
Menggabungkan dua komoditas utama daerah—kopi dan peternakan kambing—Komunitas Embek (Embek Community) berhasil menciptakan model ekonomi sirkular yang kini mendapat sorotan nasional.
Anggota DPD RI/MPR RI Dapil Provinsi Bengkulu, apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., yang meninjau langsung lokasi tersebut, tak mampu menyembunyikan kekagumannya.
Ia menilai apa yang dilakukan Komunitas Embek bukan sekadar pembuatan pupuk, melainkan sebuah solusi konkret atas masalah lingkungan yang dikonversi menjadi keuntungan ekonomi.
Kolaborasi Limbah Bernilai Tinggi

INOVASI DESA: Anggota DPD RI, apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., (tengah) berdialog dengan Ketua Komunitas Embek, Sumanto, saat meninjau proses pengolahan limbah kopi dan ternak menjadi pupuk kompos di Desa Suku Menanti IV, Rejang Lebong. Inovasi ini dinilai mampu memperkuat kemandirian ekonomi petani lokal. (Dok: Tim Media Destita)
Kunci keberhasilan komunitas yang dipimpin oleh Sumanto ini terletak pada formula fermentasi yang unik. Mereka mengawinkan kotoran kambing dengan limbah kulit biji kopi—dua material yang biasanya dibuang begitu saja.
Melalui proses fermentasi yang terukur, campuran ini diubah menjadi pupuk kompos organik berkualitas premium. Keunggulan utamanya: tidak berbau menyengat dan memiliki nutrisi makro-mikro yang sangat dibutuhkan tanaman hortikultura.
“Ini adalah definisi nyata dari ekonomi sirkular berbasis desa. Tidak ada yang terbuang percuma. Limbah diolah kembali menjadi penyubur tanah, meningkatkan hasil panen, dan pada akhirnya menyejahterakan petani. Saya sangat takjub,” ujar Destita di sela-sela kunjungannya.
Senator muda ini menegaskan, inovasi Desa Suku Menanti IV harus menjadi cetak biru (blueprint) bagi desa-desa lain di Bengkulu. Kemandirian dalam memproduksi pupuk organik juga dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang kian mahal dan langka.
Produksi Tembus Pasar Luar Daerah
Secara bisnis, Komunitas Embek telah membuktikan bahwa usaha berbasis komunitas mampu bersaing. Sumanto, Ketua Komunitas Embek, mengungkapkan dapur produksinya kini bekerja keras memenuhi permintaan pasar.
Dalam sebulan, komunitas ini mampu memproduksi rata-rata 500 karung pupuk kompos dengan kemasan berat 35 hingga 45 kilogram.
“Kami lepas ke pasar dengan harga sekitar Rp45 ribu per karung. Respons petani sangat positif karena mereka melihat langsung dampaknya pada kesuburan tanaman,” jelas Sumanto.
Jangkauan pasar mereka pun kian meluas. Tidak hanya menjadi primadona di kalangan petani sayur Rejang Lebong, pupuk “racikan” Embek Community ini kini telah merambah hingga ke Kabupaten Seluma.
Bagi Destita, keberhasilan ini adalah bukti bahwa ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan bisa dibangun dari potensi lokal, asalkan dikelola dengan ilmu pengetahuan dan ketekunan. ***

